ilustrasi
kabarintens – Ancaman krisis bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik geopolitik internasional mulai berdampak pada berbagai sektor, termasuk pola hidup masyarakat. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melihat kondisi ini sebagai peluang untuk mendorong perubahan gaya hidup yang lebih aktif dan hemat energi.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa keterbatasan energi seharusnya tidak hanya disikapi sebagai tantangan, tetapi juga sebagai momentum transformasi perilaku.
“Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk mengarahkan masyarakat pada pola hidup yang lebih sehat,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Menurut Aji, perubahan sederhana seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum dapat memberikan dampak ganda, yakni efisiensi energi sekaligus peningkatan aktivitas fisik.
Ia menjelaskan, kebiasaan berjalan kaki, menggunakan tangga, hingga bersepeda ke tempat kerja dapat menjadi solusi praktis di tengah potensi kenaikan harga dan keterbatasan BBM.
“Tanpa disadari, aktivitas tersebut membantu tubuh tetap aktif. Bahkan masyarakat bisa menargetkan minimal 7.500 langkah per hari,” katanya.
Lebih lanjut, Kemenkes menilai pola mobilitas masyarakat selama ini cenderung minim aktivitas fisik karena ketergantungan pada kendaraan bermotor. Situasi krisis energi dinilai dapat menjadi titik balik untuk mengurangi kebiasaan tersebut.
Aji juga mendorong komunitas pesepeda untuk memperluas gerakan “bike to work” sebagai alternatif transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
“Komunitas bisa berperan penting mengajak lebih banyak orang untuk beralih ke sepeda,” tambahnya.
Selain di luar rumah, perubahan perilaku juga dapat diterapkan di lingkungan kerja. Penggunaan tangga untuk jarak dekat, menurutnya, merupakan langkah kecil namun berdampak dalam penghematan energi.
“Kalau hanya dua atau tiga lantai, sebaiknya gunakan tangga daripada lift,” ujarnya.
Kemenkes menekankan bahwa adaptasi terhadap krisis energi tidak hanya berfokus pada penghematan, tetapi juga membuka peluang peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara luas.
Dengan demikian, krisis BBM global dinilai dapat menjadi titik awal perubahan menuju gaya hidup yang lebih aktif, efisien, dan berkelanjutan di tengah dinamika global yang terus berkembang.
