Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni (tengah)
Kabarintens.com, Bontang – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menegaskan komitmennya dalam membangun sumber daya manusia (SDM) melalui program bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) gratis, meski dihadapkan pada keterbatasan fiskal daerah. Kebijakan ini dinilai sebagai investasi jangka panjang yang mulai menunjukkan hasil konkret.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyebut program UKT gratis bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan strategi pembangunan yang menyasar peningkatan kualitas generasi muda. Menurutnya, akses pendidikan tinggi menjadi kunci dalam mendorong daya saing daerah ke depan.
“Ini bukan hanya soal membayar biaya kuliah, tapi bagaimana kita menyiapkan SDM unggul untuk masa depan Bontang,” ujarnya usai peringatan Hari Buruh Internasional, Jumat (1/5/2026).
Komitmen tersebut tetap dijaga meskipun anggaran yang dialokasikan tidak kecil. Setiap tahunnya, Pemkot Bontang menggelontorkan sekitar Rp15 miliar untuk membiayai program ini, dengan nilai bantuan mencapai Rp5,5 juta per mahasiswa per semester.
Program UKT gratis juga diperkuat melalui kolaborasi dengan kebijakan pendidikan gratis dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, sehingga memberikan dampak lebih luas terhadap peningkatan partisipasi pendidikan tinggi.
Hasilnya mulai terlihat. Bontang kini mencatat angka partisipasi kuliah yang melampaui rata-rata daerah lain di Kalimantan Timur, sekaligus berkontribusi pada tingginya Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi di tingkat provinsi.
Tak hanya bantuan finansial, Pemkot juga memberikan pendampingan bagi calon mahasiswa, khususnya dalam proses pendaftaran kuliah secara daring. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan.
Respons positif pun datang dari masyarakat. Banyak orangtua dan mahasiswa mengaku terbantu, terutama dalam menjaga keberlanjutan pendidikan hingga selesai.
Pemkot Bontang menilai program ini sebagai langkah strategis dalam menciptakan generasi yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan, sekaligus memperkuat fondasi pembangunan daerah berbasis kualitas manusia. (Irha)
