Kabarintens.com, Bontang – Pemanfaatan perpustakaan sekolah yang dinilai belum optimal menjadi salah satu catatan penting dalam penilaian pelayanan publik oleh Ombudsman. Kondisi ini mendorong PGRI dan Disdikbud Bontang untuk melakukan langkah konkret melalui pelaksanaan bimtek pengelolaan perpustakaan.
Ketua PGRI Bontang, Safaruddin, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan respons langsung terhadap kebutuhan peningkatan standar pelayanan minimal di sektor pendidikan, khususnya pada aspek literasi dan akses sumber belajar.
Ia menilai bahwa selama ini perpustakaan masih sering diposisikan sebagai fasilitas pelengkap, padahal perannya sangat strategis dalam mendukung proses pembelajaran yang berkualitas.
Safaruddin juga menekankan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelola perpustakaan menjadi langkah awal yang harus dilakukan untuk memperbaiki kondisi tersebut.
“Kehadiran kita di sini menunjukkan bahwa perpustakaan tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Ini bagian penting dari pelayanan pendidikan,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara PGRI dan Disdikbud menjadi kekuatan utama dalam mendorong perubahan, karena keduanya memiliki peran yang saling melengkapi.
Sementara itu, Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menegaskan bahwa perpustakaan harus menghadirkan layanan yang aktif dan tidak lagi bersifat pasif seperti sebelumnya.
Ia mengingatkan bahwa perpustakaan tidak boleh hanya menjadi tempat menyimpan buku tanpa aktivitas yang mendukung proses belajar siswa.
“Bagaimana menghadirkan layanan yang aktif. Perpustakaan tidak boleh hanya menjadi tempat menyimpan buku,” tegasnya
Menurutnya, dengan layanan yang aktif dan inovatif, perpustakaan akan menjadi ruang yang hidup dan benar-benar dimanfaatkan oleh siswa sebagai sumber belajar utama. (Irha)
