Kabarintens.com, Bontang – Penantian panjang SPNF SKB Kota Bontang untuk mendapatkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya terwujud. Setelah melalui proses yang tidak singkat, kini sebanyak 280 peserta didik dari jenjang PAUD hingga Paket A, B, dan C mulai merasakan manfaat program yang sebelumnya lebih dulu dinikmati oleh sekolah formal.
Langkah awal perjuangan ini dimulai ketika pihak SKB secara aktif mendatangi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bontang Utara 1. Kunjungan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk keseriusan untuk memastikan warga belajar di pendidikan nonformal juga mendapatkan hak yang sama dalam pemenuhan gizi.
Dalam prosesnya, SKB tidak hanya mengajukan permohonan, tetapi juga berdiskusi terkait kesiapan teknis, jumlah peserta didik, serta mekanisme distribusi yang memungkinkan program berjalan efektif. Hal ini menjadi bagian penting dari upaya mereka untuk meyakinkan pihak SPPG.
Respons positif pun diberikan, hingga akhirnya SKB diarahkan ke wilayah distribusi yang sesuai. Program PAUD dilayani oleh SPPG Bontang Utara 2, sementara program kesetaraan oleh SPPG Bontang Utara 3, dengan sistem pembagian yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.
Sebelum pelaksanaan, survei teknis dilakukan secara menyeluruh. Tim SPPG datang langsung ke SKB untuk memastikan kesiapan fasilitas, termasuk tempat distribusi, alur pembagian, hingga pengawasan kualitas makanan untuk ratusan peserta didik.
“Siap. Kalau mau meliput langsung MBG perdana di hari Senin besok juga boleh, akan diantar sekitar jam 9 pagi infonya,” kata Hairul Saleh, menandakan kesiapan penuh pelaksanaan program, Rabu (29/4/2026).
Dengan jumlah peserta didik mencapai 280 orang, pelaksanaan MBG di SKB menjadi tantangan tersendiri. Namun, sistem distribusi yang telah disiapkan membuat proses pembagian tetap berjalan tertib dan terkontrol.
Program ini tidak hanya memberikan manfaat dari sisi gizi, tetapi juga menjadi simbol pengakuan terhadap pendidikan nonformal. Bahwa warga belajar SKB juga memiliki hak yang sama dengan siswa di sekolah formal.
“Setelah lama menunggu, akhirnya seluruh warga belajar kami bisa merasakan program ini seperti di sekolah formal, dan ini sangat berarti bagi kami,” pungkasnya. (Irha)
