kabarintens – Kabar kembalinya Friendster mencuri perhatian warganet, khususnya generasi milenial yang pernah aktif di platform tersebut pada awal 2000-an. Media sosial ini sempat menjadi salah satu layanan jejaring sosial paling populer sebelum munculnya Facebook, Twitter, dan Instagram.
Pada masa kejayaannya, Friendster disebut memiliki sekitar 115 juta pengguna dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Platform ini juga dinilai menjadi tonggak penting dalam peralihan komunikasi dari metode tradisional menuju interaksi digital berbasis jaringan pertemanan.
Meski demikian, Friendster bukanlah media sosial pertama di dunia. Lahirnya jejaring sosial modern tidak lepas dari perkembangan teknologi komputer dan internet yang berlangsung sejak abad ke-20. Konsep komputer awal dikembangkan oleh Charles Babbage pada 1822, kemudian kemajuan ilmu komputer dilanjutkan oleh Alan Turing yang berkontribusi pada perkembangan komputasi modern dan mesin elektronik seperti ENIAC pada 1940-an.
Memasuki 1960-an, jaringan komputer mulai dikembangkan sehingga memungkinkan komunikasi digital seperti surat elektronik. Penggunaan internet semakin meluas pada 1970-an, yang kemudian membuka jalan bagi munculnya platform komunikasi berbasis jaringan.
Media sosial pertama di dunia hadir melalui SixDegrees yang diluncurkan pada Mei 1996 oleh Andrew Weinreich. Layanan ini memungkinkan pengguna membuat profil, menambahkan teman, dan menjelajahi jaringan koneksi. Pada puncaknya, SixDegrees memiliki sekitar 3,5 juta pengguna.
Setelah itu, muncul Ryze pada 2001 yang dibuat oleh Adrian Scott. Platform ini berfokus pada jaringan profesional dan disebut menjadi inspirasi lahirnya Friendster.
Setahun kemudian, Jonathan Abrams bersama Peter Chin merilis Friendster. Platform ini dirancang untuk mempertemukan pengguna dan membangun jaringan sosial secara lebih interaktif. Pengguna juga diberi kebebasan untuk mengubah tampilan profil menggunakan kode HTML.
Fitur kustomisasi tersebut membuat Friendster cepat populer. Selain sebagai sarana komunikasi, platform ini juga mendorong banyak pengguna mempelajari dasar-dasar HTML dan coding. Kabar rencana comeback Friendster pun kembali memunculkan nostalgia sekaligus memicu pertanyaan tentang peluang platform lama bersaing di tengah dominasi media sosial modern.
