Kabarintens.com, Bontang – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mulai mematangkan arah baru pembangunan ekonomi daerah dengan menyiapkan kawasan Bontang Lestari sebagai episentrum investasi masa depan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk menggeser ketergantungan daerah terhadap sektor migas dan pertambangan menuju industri modern yang lebih berkelanjutan.
Transformasi tersebut tertuang dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2026 dan rencana strategis Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang.
Pejabat Fungsional Ahli Madya Analis Kebijakan Bidang Penanaman Modal DPMPTSP Bontang, Karel, menjelaskan bahwa pemerintah telah memetakan potensi besar di kawasan Bontang Lestari sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Ia menyebutkan, sedikitnya terdapat 18 peluang investasi strategis yang disiapkan untuk menarik minat investor, khususnya pada sektor industri modern yang berbasis keberlanjutan.
“Bontang Lestari kami dorong menjadi kawasan yang mampu menampung investasi jangka panjang. Fokusnya bukan lagi pada pola industri lama, tetapi pada pengembangan sektor yang lebih adaptif terhadap tuntutan ekonomi hijau,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Menurut dia, pengembangan investasi di kawasan tersebut diarahkan pada hilirisasi industri, termasuk pengembangan industri turunan soda ash serta pembangunan pabrik amonium nitrat.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat rantai pasok industri kimia nasional sekaligus membuka ruang penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.
Selain memperluas investasi, pemerintah juga tengah menyiapkan dukungan regulasi dan infrastruktur penunjang agar kawasan tersebut memiliki daya saing tinggi di tingkat regional maupun nasional.
“Kami ingin memastikan kawasan ini tumbuh sebagai magnet investasi yang tidak hanya besar secara nilai, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi pembangunan daerah,” terangnya.
Dengan arah kebijakan tersebut, Bontang diproyeksikan menjadi kota industri modern yang tidak lagi bertumpu pada sumber daya ekstraktif semata, melainkan pada inovasi dan diversifikasi ekonomi berkelanjutan. (Irha)
