Bahan Baku Melimpah, Bontang Dibidik Jadi Rumah Industri Hilir Petrokimia

Kepala DPMPTSP Kota Bontang, Muhammad Aspiannur

Kabarintens.com, Bontang – Ketersediaan bahan baku dalam jumlah besar menjadi salah satu faktor utama yang menentukan tumbuh atau tidaknya sebuah kawasan industri. Kota Bontang dinilai memiliki keunggulan tersebut melalui kapasitas produksi amonia dan urea yang selama ini menjadi tulang punggung industri kimia nasional.

Potensi tersebut membuka peluang lahirnya berbagai industri hilir yang mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Pengembangan industri turunan dinilai menjadi langkah strategis agar bahan baku tidak hanya diproduksi, tetapi juga diolah menjadi komoditas dengan nilai tambah yang lebih besar.

Kepala DPMPTSP Kota Bontang, Muhammad Aspiannur, mengatakan keberadaan industri dasar yang telah berkembang selama puluhan tahun merupakan modal besar untuk menarik investasi baru di sektor petrokimia.

“Bontang memiliki fondasi yang sangat kuat. Produksi amonia mencapai sekitar 1,85 juta ton per tahun dan urea sekitar 2,98 juta ton per tahun. Ketersediaan bahan baku sebesar itu menjadi daya tarik bagi investor yang ingin mengembangkan industri hilir,” ujarnya, Jumat (10/7/2026).

Ia menjelaskan, amonia maupun urea tidak berhenti sebagai produk utama. Keduanya masih dapat diolah menjadi berbagai produk turunan seperti ammonium nitrat, fatty acid, biodiesel, hingga bahan baku untuk berbagai kebutuhan industri lainnya.

Menurutnya, semakin banyak industri hilir yang tumbuh, semakin panjang pula rantai ekonomi yang tercipta. Aktivitas tersebut tidak hanya menghadirkan investasi baru, tetapi juga mendorong kebutuhan jasa konstruksi, logistik, perawatan industri, hingga peluang usaha bagi pelaku UMKM.

“Yang ingin kita dorong bukan hanya berdirinya satu pabrik baru. Efek berganda dari industri hilir jauh lebih luas karena melibatkan banyak sektor pendukung dan membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, posisi Bontang yang telah dikenal sebagai kawasan industri pupuk dan petrokimia menjadi keuntungan tersendiri. Investor tidak memulai dari nol karena infrastruktur industri dan ekosistem pendukung telah terbentuk.

Melalui penguatan hilirisasi, DPMPTSP optimistis Bontang mampu berkembang menjadi pusat industri kimia bernilai tambah di Indonesia Timur sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan melalui peningkatan investasi dan penyerapan tenaga kerja. (Irha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *